Gua Hira, Tempat Nabi Muhammad SAW Pertama Kali Menerima Wahyu
Gua Hira adalah tempat Nabi
Muhammad SAW menerima wahyu dari
Allah yang pertama kalinya melalui malaikat
Jibril. Gua tersebut sebagai tempat Nabi Muhammad menyendiri dari masyarakat yang pada saat itu masih belum beriman kepada
Allah. Gua Hira terletak di negara
Arab Saudi.
Letaknya pada tebing menanjak yang agak curam walau tidak terlalu
tinggi, oleh karena itu untuk menuju gua itu setiap orang harus memiliki
fisik yang kuat.
Saling Berebut di Gua Hira

Perjalanan ibadah haji bagi para jamaah haji bukan hanya melakukan
rukun dan sunnah ibadah haji. Tapi, mereka juga melakukan ziarah. Salah
satu tempat ziarah yang diburu para jamaah haji adalah gua Hira di Jabal
Nur. Mereka berebut masuk ke dalam gua hira yang sangat sempit itu.
Fajar juga belum muncul. Azan subuh masih akan berkumandang 1 jam lagi.
Tapi, sejumlah jamaah haji nekat mendaki gunung berbatu menembus
hembusan angin dingin kota Makkah. Di antara mereka tampak jamaah haji
dari Pakistan dan Turki yang berbadan besar, juga jamaah haji asal
Indonesia yang berbadan lebih kecil. Sejak pukul 04.30 Waktu Arab Saudi
(WAS), barisan orang yang mendaki gunung itu sudah terlihat. Mereka
ingin salat subuh di atas gunung itu. Ketika hari makin siang, maka
bertambah banyaklah orang-orang yang mendaki gunung ini. Nama gunung
itu, Jabal Nur, yang berarti ‘Gunung Cahaya’. Gunung ini terletak 6 km
sebelah utara Masjidil Haram. Di lima meter bawah puncak gunung terdapat
gua Hira. Di gua inilah, berabad-abad lalu, Nabi Muhammad SAW mendapat
wahyu pertama, yaitu surat Al Alaq ayat 1-5. Gua Hira inilah yang
dijadikan rebutan para peziarah. Mereka ingin memasuki gua yang menjadi
tempat bertemunya Rasulullah dengan Malaikat Jibril itu. Padahal, gua
ini hanya berukuran sempit, cukup hanya untuk empat orang saja. Untuk
menuju puncak gunung, seseorang rata-rata memerlukan waktu selama 1 jam
dari dasar gunung. Medannya cukup sulit. Tidak ada titian tangga yang
teratur dari dasar tangga, seperti yang ada di Jabal Rahmah. Para
peziarah harus mendaki melewati batu-batu terjal. Harus ekstra
hati-hati! Jalan bertangga hanya ditemukan setelah 3/4 perjalanan.
Menjelang puncak gunung, peziarah bisa mendaki dengan sedikit agak
santai. Begitu sampai di puncak gunung, peziarah sudah dengan gampang
melihat Gua Hira. Saat ini, di samping gua itu terdapat tulisan ‘Ghor
Khira’ berwarna merah yang berarti Gua Hira. Di atas tulisan itu juga
dituliskan dua ayat awal surat Al Alaq dengan cat warna hijau. Gua Hira
terletak persis di samping tulisan itu. Untuk mencapai gua Hira,
peziarah harus turun sedikit dari puncak gunung, sekitar 5 meter saja.
Namun, medannya cukup sulit, karena harus melewati batu-batu besar.
Hanya sebagian besar peziarah laki-laki saja yang bisa sampai ke gua
itu, meski sejumlah jamaah perempuan juga ada yang nekat. Saat wartawan
detikcom Arifin Asydhad berkunjung ke Jabal Nur, Senin
(26/12/2005) lalu, gunung ini sudah ramai dengan peziarah. Bahkan,
mereka saling berebut masuk ke gua Hira. Mereka rela berjubel-jubel dan
saling dorong di depan gua yang sempit itu, demi untuk masuk ke dalam
gua. Memang beragam tujuan para peziarah untuk nekat mendaki gunung ini.
Ada jamaah yang meyakini mereka mendapatkan berkah di dalam gua Hira.
Ada jamaah yang ingin melakukan salat di atas gunung. Ada jamaah yang
ingin merasakan seberapa berat perjalanan Rasulullah ke puncak gunung
itu. Dan ada juga yang hanya penasaran dengan gunung yang selalu jadi
rebutan peziarah ini. Sebenarnya, pemerintah Arab Saudi tidak
menganjurkan para peziarah untuk mendaki gunung ini. Ini terlihat pada
papan pengumuman pemerintah Arab Saudi di jalan masuk menuju gunung.
Imbauan ini ditulis dalam beberapa bahasa termasuk bahasa Indonesia.
“Saudara kaum muslim yang berbahagia: Nabi Muhammad SAW tidak
menganjurkan kita untuk naik ke atas gunung ini, begitu pula salat,
mengusap batunya, mengikat pohon-pohonnya, dan mengambil tanah, batu,
dan pohonnya. Dan kebaikan adalah dengan mengikuti sunah Nabi SAW, maka
janganlah Anda menyalahinya”. Meski ada larangan ini, namun peziarah
tidak mempedulikannya. Bahkan, seperti kebiasaan tahun lalu, semakin
mendekati pelaksanaan ibadah haji, maka Jabal Nur ini akan semakin ramai
diserbu oleh para peziarah. Jamil, salah seorang jamaah haji asal Nusa
Tenggara Barat (NTB), termasuk salah seorang jamaah haji Indonesia yang
berhasil masuk ke dalam gua Hira. Perjuangannya untuk masuk ke gua itu
tidaklah ringan, karena harus berebut dengan jamaah asal Turki dan
Pakistan. “Saya puas mas,” kata dia setelah masuk ke dalam gua Hira.
Menurut dia, gua itu sangat sempit dan gelap, hanya cukup 4 orang. Di
gua, Jamil tidak bisa terlalu lama, karena harus bergantian dengan
jamaah lain. “Di dalam gua, saya hanya berdoa agar diberi keselamatan di
dunia dan akhirat,” kata Jamil. Foto: Para peziarah tampak berebut di mulut Gua Hira. Saling sikut dan dorong sudah biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar